Catatan Kuliah

November 30, 2009

Stratifikasi Sosial Bioskop

Filed under: Sosiologi — viacheria @ 10:37 am

Stratifikasi sosial merupakan pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status sosial yang dimilikinya menjadi kelas-kelas tertentu. Fenomena tersebut antara lain dapat dipengaruhi oleh:

  • Stratifikasi usia (Age stratificaton)
  • Stratifikasi jenis kelamin (Sex stratification)
  • Stratifikasi keagamaan (Religious stratification)
  • Stratifikasi etnik (Ethnic stratification)
  • Stratifikasi pekerjaan (Occupational stratification)
  • Stratifikasi pendidikan (Educational stratification)
  • Stratifikasi ekonomi (Economic stratification)

Fenomena stratifikasi tidak dapat dihindari apalagi dihilangkan karena telah menyatu dengan sistem sosial yang ada dalam masyarakat. Misalnya hubungan pembantu dengan majikan, atasan dengan bawahan, anak dan orang tua, dan lain sebagainya. Jika stratifikasi dihilangkan, maka secara otomatis akan merusak sistem dan tatanan sosial yang telah tertanam dalam masyarakat.

Stratifikasi sosial bukan hanya sebagai sistem sosial yang mengatur masyarakat, namun juga merupakan kebutuhan. Sadar atau tidak, setiap anggota masyarakat membutuhkan pelapisan sosial dalam kehidupannya masing-masing. Dimana seseorang yang pintar tidak ingin disamakan dengan orang bodoh, orang kaya merasa derajatnya lebih tinggi dari orang miskin, dan lain-lain. Seseorang yang berkemampuan lebih akan merasa derajatnya lebih tinggi dan termasuk dalam kalangan atas, sedangkan yang berkemampuan rendah akan mawas diri atau mencoba masuk dalam lingkungan atas tersebut.

Stratifikasi atau pelapisan sosial membagi masyarakat menjadi tiga kelas, yakni kelas rendah, kelas menengah, dan kelas atas. Pencitraan dari stratifikasi tersebut menjadikan nilai tersendiri bagi setiap orang, sehingga mereka saling berburu dan berkompetisi untuk dapat masuk dalam kelas atas tersebut. Seseorang akan merasa percaya diri dan bangga jika ia merasa masuk dalam kalangan atas. Begitupun sebaliknya, jika ia merasa termasuk dalam kalangan rendah, ia akan merasa minder dan kurang percaya diri. Dalam gaya hidup misalnya, pelapisan sosial dapat dilihat dari ponsel apa yang digunakan, perumahan yang ditinggali, sekolah tempat belajar, dan lain-lain.

Salah satu fenomena stratifikasi sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat saat ini adalah fenomena bioskop. Bioskop adalah tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar dan diproyeksikan ke layar dengan memakai proyektor. Sejak didirikan pertama kali pada tahun 1900, bioskop di Indonesia terus mengalami perkembangan dan menjadi gaya hidup dalam masyarakat.

Saat ini terdapat dua bioskop di Indonesia, yakni Cineplex 21 dan Blitzmegaplex. Masing-masing bioskop tersebut memiliki citra yang berbeda di mata masyarakat. Blitzmegaplex dianggap lebih mewah dan memiliki citra yang lebih tinggi daripada Cinema 21, sehingga masyarakat yang menonton di kedua bioskop tersebut memiliki stratifikasi yang berbeda-beda. Berikut ini penjelasan tentang Cinema 21 dan Blitzmegaplex.

Blitzmegaplex

Blitzmegaplex dibuka pada bulan Oktober 2006 dan merupakan bioskop terbaru di Indonesia. Bioskop ini menghilangkan kesan monopoli yang terjadi dalam jaringan bisnis bioskop di Indonesia, yang sebelumnya dikuasai oleh Cinema 21. Bioskop ini pertama kali dibuka di Paris Van Java Bandung, kemudian dibuka di berbagai mall di Jakarta, yaitu di Grand Indonesia, Pasific Place dan Mall of Indonesia. Beberapa kelebihan yang dimiliki Blitzmegaplex antara lain:

  • Meraih rekor MURI sebagai bioskop dengan layar terbesar se-Indonesia
  • Menyediakan lebih dari 8 auditorium di setiap lokasi bioskop
  • Menyediakan lebih banyak variasi film baik dari dalam maupun luar negeri
  • Konsep “Beyond Movies” dengan menyediakan fasilitas-fasilitas lain seperti restaurant and cafe, live music performance, digital music store, gamesphere, pool, karaoke, function rooms, WiFi areas dan blitzshope.
  • Movie screening bookings (nonton bareng) yang memungkinkan penyewaan auditorium secara penuh
  • Adanya studio 3D dengan menggunakan teknologi realD yang memungkinkan menonton secara 3 dimensi
  • Penggunaan teknologi suara Dolby Digital, sehingga suara yang dihasilkan lebih bagus dan lebih tajam
  • Harga tiket yang ditawarkan lebih mahal

Cinema 21

Cinema 21 adalah jaringan bioskop terbesar Indonesia dan telah tersebar di banyak kota di Indonesia. Sebelum Blitzmegaplex muncul, Cinema 21 merupakan satu-satunya bioskop dan memonopoli bisnis bioskop di Indonesia. Fasilitas-fasilitas yang tersedia di Cinema 21 antara lain:

  • Tersebar di banyak tempat dan wilayah di Indonesia sehingga mudah diakses
  • Harga tiket 2 kali lebih murah daripada Blitzmegaplex
  • Beberapa studionya telah menggunakan teknologi suara Dolbi Digital dan berseritifikat THX
  • Suasana bioskop lebih ramai dan relatif lebih kecil
  • Menyediakan film-film dari dalam maupun luar negri

Dari penjelasan diatas, dapat kita lihat kekurangan dan kelebihan dari masing-masing bioskop yang mempengaruhi pencitraannya di mata masyarakat. Blitzmegaplex dianggap lebih mewah dan eksklusif karena harga tiket yang ditawarkan lebih mahal daripada Cinema 21, sehingga memberikan asumsi kepada masyarakat bahwa orang yang menonton di Blitzmegaplex termasuk dalam kelas atas, sedangkan yang menonton di Cinema 21 termasuk kelas menengah bahkan rendah.

Dalam kasus ini, sistem stratifikasinya bersifat terbuka, yakni setiap orang dapat berpindah-pindah kelas dengan mudah. Misalnya ketika ia belum bekerja ia menonton di Cinema 21, namun setelah ia memperoleh pekerjaan ia menonton di Blitzmegaplex. Sistem stratifikasi semacam ini tidak menuntut atau membatasi seseorang untuk berpindah dari kelas satu ke kelas yang lain.

 

Sosialisasi Dalam Stratifikasi Sosial

Sosialisasi merupakan proses internalisasi suatu hal dalam diri seseorang atau masyarakat dengan membatinkan apa yang disampaikan  oleh orang luar. Pencitraan lapisan-lapisan sosial secara langsung maupun tidak langsung tertanam dalam diri masyarakat melalui proses sosialisasi.

Penilaian seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh berbagai hal yang ada di lingkungannya, seperti pengaruh iklan, ucapan teman dan kerabat, dan penilaian umum dari masyarakat. Hal-hal tersebut masuk dalam diri setiap anggota masyarakat sehingga menimbulkan anggapan tertentu dalam memandang kelas-kelas sosial dalam masyarakat.  Contohnya seperti penilaian orang yang nonton di Blitmegaplex memiliki kelas yang lebih tinggi daripada orang yang nonton di Cinema 21.

Sosialisasi juga merupakan proses dimana seseorang belajar menjadi anggota masyarakat dan memahami peranannya masing-masing. Ketika suatu hal atau gaya hidup menjadi patokan pelapisan sosial, maka otomatis masyarakat akan terbagi dalam berbagai tingkatan kelas, ada yang kelas atas, menengah, dan rendah. Setiap anggota masyarakat akan menyadari di kelas mana ia masuk kemudian memahami peranan-peranannya dalam lingkungan sosial.

Stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat juga ikut mempengaruhi proses sosialisasi yang terjadi antar individu dalam lingkungan sosial. Seseorang yang kelasnya lebih tinggi akan tampak memiliki halangan atau batasan hubungan dengan orang yang kelasnya lebih rendah. Kalangan atas akan merasa lebih bangga sedangkan kalangan rendah merasa mawas diri dan minder. Terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat tertentu merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh stratifikasi sosial, kalangan atas hanya akan bergaul dengan sesama kalangan atas, begitu juga sebaliknya. Hal-hal tersebut menjadikan proses sosialisasi hanya dilakukan dalam satu kelompok dan bersifat terbatas.

 

Interaksi Dalam Stratifikasi Sosial

Interaksi sosial merupakan hubungan seseorang dengan orang lain (individu dengan individu), kelompok dengan kelompok  atau seseorang dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan syarat terjadinya aktifitas-aktifitas sosial. Jika interaksi sosial tidak terjadi, maka hubungan antar anggota masyarakatpun akan terganggu. Interaksi sosial merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa lepas dari dalam diri seseorang.

Interaksi sosial digunakan untuk mempelajari dan menelaah masalah-masalah yang ada dalam diri masyarakat. Melalui interaksi, seseorang akan dapat mengetahui banyak hal dalam lingkungannya, seperti adat istiadat, karakteristik masyarakat, dan lain-lain. Jika dalam masyarakat tidak terjadi interaksi sosial, maka tidak akan terjadi kehidupan bersama.

Interaksi dapat terjadi jika telah memenuhi dua syarat, yakni kontak sosial dan komunikasi. Misalnya seseorang mengobrol dengan orang lain, saling berjabat tangan, berpelukan, dan lain-lain. Contoh-contoh tersebut merupakan salah satu bentuk interaksi. Dengan berinteraksi, seseorang akan dapat menjalin hubungan dengan orang lain dan belajar memahami kepribadian masing-masing.

Interaksi sosial dan stratifikasi sosial tentunya memiliki hubungan yang erat. Interaksi sosial antara kalangan rendah dengan kalangan atas tentunya akan berbeda. Umumnya, seseorang akan lebih sering berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang kelas yang sama. Misalnya orang kaya akan lebih sering berhubungan dengan orang kaya daripada orang miskin, begitu juga sebaliknya.

Anggapan masyarakat tentang stratifikasi bioskop membuat penilaian baru tentang pencitraan seseorang. Orang yang menonton di Blitzmegaplex memiliki nilai lebih daripada orang yang menonton di Cinema 21. Pencitraan tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses interaksi sosial antar individu. Interaksi hanya akan terjalin di masing-masing kelompok, dimana ada jurang pemisah yang membedakan mereka. Orang-orang hanya akan berinteraksi dengan sesama kelas sosialnya saja.

 

Kesimpulan

Kasus stratifikasi bioskop di Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak kasus stratifikasi sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Dimana pandangan tentang kelas sosial seseorang dapat dilihat dari di tempat mana ia menonton. Seseorang yang masuk dalam kelas sosial yang tinggi akan merasa bangga dan percaya diri, sementara yang berada di kelas rendah akan merasa minder dan kurang percaya diri.

Stratifikasi sosial merupakan kebutuhan yang tak terpisahkan dalam diri masyarakat. Dalam pandangan umum, mungkin stratifikasi atau pelapisan kelas masyarakat dianggap sebagai hal yang negatif. Namun ternyata, stratifikasi juga merupakan hal yang positif karena berperan dalam mengatur dan menjaga ketertiban lingkungan masyarakat. Tanpa adanya stratifikasi sosial, maka kehidupan bermasyarakatpun akan terganggu.

Proses sosial yang ada dalam masyarakat saling berhubungan dan tak terpisahkan. Stratifikasi sosial memiliki hubungan yang erat dengan sosialisasi dan interaksi sosial, yang intinya mengatur kehidupan sosial masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, tentunya kita harus mengikuti  proses dan sistem sosial tersebut dengan sebaik-baiknya agar tercipta lingkungan masyarakat yang tertib.

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: