Catatan Kuliah

November 30, 2009

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Filed under: Sosiologi — viacheria @ 9:20 am

Sekitar abad ke-18 terjadi berbagai fenomena sosial yang mengakibatkan adanya perubahan dalam lingkungan masyarakat. Contohnya seperti revolusi industri di Inggris, revolusi Perancis, disintegrasi dalam agama Kristen, dan lain-lain. Hal ini membuat para pemikir sosial mulai mencari cara bagaimana untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang sedang terjadi kala itu.

Beberapa sosiolog memiliki anggapan yang berbeda-beda mengenai  penyebab berkembangnya pemikiran sosiologi. Berger dan Berger berpendapat bahwa perkembangan sosiologi disebabkan karena masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal  yang  sudah seharusnya demikian atau karena telah terjadi krisis terhadap pegangan hidup manusia, contohnya disintegrasi dalam agama Kristen.

Pendapat lain dikemukakan oleh L. Laeyendecker yang menghubungkan  perkembangan sosiologi dengan perubahan jangka panjang di Eropa Barat pada abad pertengahan.  Hasil-hasil identifikasinya antara lain:

  • Kapitalisme pada abad  ke -15
  • Perubahan sosial dan politik
  • Perubahan yang disebabkan oleh reformasi Martin Luther
  • Meningkatnya Individualisme
  • Lahirnya ilmu pengetahuan modern
  • Berkembangnya rasa percaya diri
  • Terjadinya revolusi industri dan revolusi Perancis

Dalam buku Ritzer juga disebutkan beberapa penyebab tumbuhnya sosiologi (Ritzer, 1992:6-9), yakni:

  • Revolusi politik
  • Revolusi industri
  • Kapitalisme
  • Sosialisme
  • Urbanisasi
  • Masalah keagamaan
  • Meningkatnya ilmu pengetahuan

Berangkat dari latar belakang tersebut, mulai bermunculan  para perintis dan pengembang ilmu sosiologi yang memiliki pandangan tentang berbagai masalah terkait dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Hingga saat ini, pandangan-pandangan tersebut juga digunakan dalam disiplin ilmu lain, seperti ilmu politik, sejarah, antropologi, dan ekonomi.  Berikut ini beberapa perintis ilmu sosiologi:

 

 

  1. 1. Auguste Comte (1798-1857)

Auguste Comte (Perancis, 1798-1857) dikenal sebagai bapak ilmu sosiologi. Comte dianggap sebagai penemu ilmu sosiologi dikarenakan perannya dalam pemberian nama sosiologi serta filsafat yang membantu dalam perkembangan ilmu sosiologi. Sebelumnya, Comte menggunakan istilah social physics (fisika sosial). Karena istilah ini sudah digunakan oleh Saint Simon, maka istilah tersebut berubah menjadi sociology.Kata sosiologi pertama kali diungkapkan dalam buku berjudul  “Cours De Philosophie Positive” karangan Auguste Comte. Sosiologi berasal dari bahasa latin socius yang berarti teman, dan logos dari bahasa yunani yang berarti cerita.

Auguste Comte membagi sosiologi ke dalam dua pendekatan, yakni:

1. Statika sosial (social static) : mengkaji stabilitas sosial

2. Sosial dinamik : mengkaji kemajuan dan perubahan sosial

Dalam bukunya “Cours De Philosophie Positive”, Comte juga mengemukakan Hukum Tiga Jenjang, yaitu :

  1. Jenjang Teologi

Manusia menggap bahwa semua benda di dunia memiliki jiwa yang disebabkan oleh kekuatan diatas manusia.

  1. Jenjang Metafisika

manusia menganggap bahwa setiap hal mengacu pada kekuatan metafisik dan abstrak.

  1. Jenjang Positif

Manusia mulai berfikir secara ilmiah.

 

Comte dianggap sebagai perintis positivisme karena telah memperkenalkan metode positif.  Ciri motode positif ini adalah objek yang dikaji harus berupa fakta, bermanfaat dan menunjukkan kepastian.  Sarana yang dapat digunakan dalam kajian tersebut antara lain:

 

  1. Pengamatan
  2. Perbandingan
  3. Eksperimen
  4. Metode Historis

 

Comte beranggapan bahwa ilmu sosiologi merupakan ”Ratu ilmu-ilmu sosial” dan menempati kedudukan teratas diantara ilmu-ilmu sosial lainnya.

  1. Émile Durkheim (1858-1917)

Durkheim lahir di Epinal, Perancis. Ia berasal dari keluarga pendeta yahudi dan awalnya disekolahkan untuk menjadi seorang pendeta. Durkheim merupakan ilmuwan yg sangat produktif. Karya-karyanya antara lain The Division of Labor in Society (1968), Rules of Sociological Method (1965), Suicide (1968), Moral Education (1973) dan The Elementary Forms of the Religious Life (1966).

Durkheim berpendapat bahwa setiap manusia memerlukan solidaritas dalam kehidupannya. Ia membagi solideritras tersebut menjadi dua macam:

  1. Solidaritas mekanik

Solidaritas yang berdasarkan pada persamaan

  1. Solidaritas Organik

Solidaritas yang berdasarkan pada kepercayaan dan kesetiakawanan

Dalam buku Rules of Sociological Method, Durkheim mengemukakan bahwa bidang yang harus dipelajari dalam ilmu sosiologi adalah fakta sosial. Menurut Durkheim, fakta sosial adalah “setiap cara bertindak yang telah baku ataupun tidak, yang dapat melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu”.

Dalam bukunya yang lain yang berjudul Suicide, Durkheim mengkaji tentang fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat, yaknik angka bunuh diri. Dalam kajiannya tesebut, Durkheim menggunakan metode kuantitatif. Pun begitu, Durkheim juga merintis dan membentuk riset historis dan kualitatif yang ada pada Rules of Sociological Method.

  1. Max Weber (1864-1920)

Max Weber lahir di Erfurt, Jerman pada tahun 1864.  Max berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya seorang birokrat dan ibunya adalah seorang pemeluk agama Calvinisme yg sangat taat. Ia mempelajari ilmu hukum di Universitas Berlin dan Universitas Heidelberg.

Max weber merupakan salah satu perintis dan pengembang ilmu sosiologi. Salah satu sumbangan terbesarnya adalah kajian tentang konsep dasar sosiologi. Ia mengatakan bahwa, ” sociology is a science which attempts the interpretive understanding of social action in order thereby to arrive at a casual explanation of its course and effects” . Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial.

Menurut pandangan Weber, kenyataan sosial berasal dari motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial. Weber percaya bahwa hanya individu-individu sajalah yg riil secara obyektif, dan masyarakat adalah satu nama yg menunjukan pada sekumpulan individu yg menjalin hubungan. Pandangannya tentang tindakan sosial inilah yg kemudian menjadi acuan dikembangkannya teori sosiologi yg membahas interaksi sosial.

Max Weber juga berpendapat bahwa sebuah fikiran dapat menentukan kehidupan sosial. Ia juga mencemaskan perkembangan masyarakat yang mengarah pada rasionalisasi dan birokratisasi yang makin luas. Rasa kesetiakawanan, solidaritas, dan semangat tolong menolong telah terganti dalam masyarakat modern menjadi relasi fungsional, pertimbangan rasional,dan motivasi sekuler. Bahkan setelah meletusnya Perang Dunia II, muncul Madzhab Frankfurt yang menekankan pada kebebasan dan peran kritis individu.

 

  1. Karl Marx (1818-1883)

Menurut Marx, sejarah peradaban manusia dari dulu hingga sekarang ditandai dengan hubungan sosial yg melembagakan sifat ketergantungan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Orang-orang yang menguasai sumber-sumber ekonomi adalah kelas atas, sedangkan orang-orang yang hanya memiliki sedikit bahkan tidak sama sekali adalah kelas bawah. Kesenjangan tersebut mengakibatkan terjadinya penindasan oleh kelas atas terhadap kelas bawah. Karl Marx memfokuskan perhatiannya kepada dua hal, yaitu:

  1. BORJUIS

(kelas atas/kapitalis yg memiliki memiliki alat-alat produksi seperti pabrik  dan mesin)

  1. PROLETAR

(kelas bawah/ para buruh yg bekerja pada borjuis)

Sebagai seseorang yang anti penindasan, Karl Marx melihat bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan penindasan tersebut adalah dengan menghancurkan sistem kapitalis.  Caranya adalah dengan melakukan revolusi dalam sistem kehidupan masyarakat dan menggantinya dengan sistem yang lebih menghargai martabat manusia.

Beberapa sosiolog yang lain juga memberikan pandangan-pandangannya dalam ilmu sosiologi. Ferdinand Toennies (1855-1936) adalah seseorang yang menentang pengertian sempit sosiologi, dan memandang sosiologi empirik sebagai pengumpul saja dari fakta statistik. Disamping itu, George Simmel (1858-1918) tidak memandang fenomena-fenomena sosial sebagai fakta  yang mengekang dan mempengaruhi, melainkan justru sebagai interaksi manusia.

Selain di Eropa, ilmu sosiologi juga berkembang pesawat di Amerika  Serikat. Talcot Parsons dan Robert K. Merton berjasa bagi perkembangan teori Fungsional Struktural.  Inti ajaran mereka adalah semula Sosiologi Amerika mengungkapkan rasa puas diri dengan keberhasilan negerinya (politik dan ekonomi), dengan mengutamakan struktur di atas proses. Namun, sekitar 1960-an Sosiologi Amerika  yang merupakan penyambung lidah kebebasan individu dan kebingungan masyarakat, mendapat tantangan. Paham Fungsionalisme Struktural mendapat tantangan dari paham Interaksionisme Simbolik (Herbert Blumer) dan Etnometodologi (Harold Garfinkel).

Berkembangnya ilmu sosiologi di dunia melahirkan banyak pemikir-pemikir sosial , seperti Auguste Comte, Emile Durkheim, Selo Soemardjan, dan lain-lain.  Para sosiolog tersebut berperan besar dalam mengembangkan ilmu sosiologi kepada masyarakat. Meskipun sama-sama pemerhati sosiologi, masing-masing dari mereka memiliki pendapat yang berbeda tentang makna sosiologi. Namun demikian, makna-makna tersebut memiliki muara yang sama, yakni ilmu yang mempelajari kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Berikut definisi-definisi menurut para ahli tersebut:

  1. Emile Durkheim

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

  1. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi

Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

  1. Soejono Sukamto

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

  1. William Kornblum

Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

  1. Allan Jhonson

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

  1. Roucek & Waren

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.

  1. Soerjono Soekanto

Sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris, serta bersifat umum.

  1. Pitirim Sorokin

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

  1. Roucek dan Warren

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

10.  William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf

Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

11.  J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

12.  Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

13.  Paul B. Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

 

Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat. Disamping itu, sosiologi juga membahas fakta-fakta yang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.

 

Adapun obyek-obyek sosiologi antara lain:

 

  1. Interaksi manusia;
  2. Kelompok (kelas sosial atau masyarakat);
  3. Produk yang timbul dari interaksi: nilai, norma serta kebiasaan yang dianut kelompok atau masyarakat.

 

Ilmu sosiologi tentunya tak pernah lepas dari istilah masyarakat. Sama dengan definisi sosiologi,  para sosiolog juga memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, masyarakat adalah orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Sedangkan menurut Ralph Linton, masyarakat adalah kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas yang dirumuskan secara jelas. Definisi masyarakat juga dapat kita artikan dengan beberapa kata kunci, yaitu:

 

  • Manusia yang hidup bersama
  • Berinteraksi dalam waktu yang lama
  • Mereka sadar bahwa mereka satu kesatuan
  • Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama

Wright Mills memiliki pandangan bahwa manusia perlu khayalan sosiologis untuk dapat memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi dan hubungan antara keduanya. Dua hal yang diperlukan untuk dapat melakukannya antara lain:

  • Persoalan pribadi (personal troubles)
  • persoalan publik (public issues)

 

Peter Berger mengemukakan beberapa citra yang dimiliki oleh seorang sosiolog, yaitu:

  • suka bekerja dengan orang lain
  • melakukan sesuatu untuk orang lain
  • seorang teoritikus
  • reformatif,
  • senang mengumpulkan data statistik prilaku manusia
  • perhatian pada metodologi dan seorang pengamat

 

Gerhard Lenski (1985) membagi Sosiologi menjadi Tiga Jenjang:

  • Sosiologi Mikro

Para ahli Sosiologi Mikro yang dipelajari adalah dampak sistem sosial dan kelompok primer terhadap individu.

  • Sosiologi Meso

Para ahli Sosiologi Meso yang dipelajari adalah ketertarikannya pada institusi-institusi khas dalam masyarakat mereka.

  • Sosiologi Makro

Para ahli Sosiologi Makro yang dipelajari adalah ciri-ciri masyarakat secara menyeluruh serta sistem masyarakat dunia.

Menurut Inkeles (1965) ada 3 pokok bahasan  Sosiologi,yaitu:

  • Hubungan Sosial (yang merupakan “molekul” kehidupan sosial),
  • Institusi (terbentuk karena adanya kompleks hubungan sosial),
  • Masyarakat (yang dipelajari misalnya: bagaimana perkembangannya, dibandingkan dengan masyarakat yang lainnya).

 

Sebagai ilmu sosial yang bersifat empirik, sosiologi memiliki daya tarik tersendiri. Menurut Berger, daya tarik Sosiologi adalah terletak pada kenyataan bahwa sosiologi memungkinkan seseorang untuk memperoleh gambaran lain tentang dunia yang ditempati manusia.

 

Seorang sosiolog harus mampu menembus tembok yang menutupi struktur sosial. Selain itu, sosiolog juga didorong untuk membongkar kepalsuan (debunking motif) sistem sosial dan membuka kedok  yang menutupi wajah (unmasking). Dalam mengungkap realitas sosial, Sosiolog menyingkap tabir-tabir yang belum terungkap sehingga ditemukan realitas baru yang tidak terduga.

1 Comment »

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Comment by Mr WordPress — November 30, 2009 @ 9:20 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: